4 April 2015

TERPISAHKAN OLEH TAKDIR

Karya Alif Fatin Fadhilah

“Ketika ketulusan cinta dan kesucian niat telah dipatahkan begitu saja oleh keadaan, langkah terakhir hanyalah ikhlas. Mengikhlaskan semua yang terjadi dan melihatnya berjalan sesuai dengan kehendak Allah. Pahit memang, perih tentu.”. Hanya sebuah ratapan dari gadis kecil yang tak berdaya, aku.

Sebut saja aku Elis. Aku terkenal pendiam di desaku. Aku adalah gadis yang kini beranjak dewasa. Sejak kecil aku jarang keluar dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Tapi jangan salah, aku selalu aktif jika ada kegiatan di desaku. Seperti karang taruna, yasinan, dhiba’, atau kegiatan positif yang lain. Sejak aku menginjak SMP, aku sudah menjadi anggota dari karang taruna di desaku. Saat itu, aku mengagumi seorang lelaki yang sangat tampan, menurutku. Namanya Mas Roni. Pawakannya yang tinggi, kulitnya yang putih, alisnya yang tebal, bonus aura cerah yang selalu keluar dari parasnya. Tidak hanya tampan, tetapi juga baik, dewasa, bijaksana, pintar, dan pekerja keras. Dan yang paling penting, dia rajin beribadah dan tata kramanya bagus. Mapan dengan usahanya sendiri adalah bonus. Ya. Walaupun dia anak orang berada, tetapi dia sudah mandiri dari kecil. Mana ada wanita yang tak terkesima dengan lelaki model seperti ini? Apalagi di zaman sekarang, para wanita lebih banyak mengingikan pria yang bisa mengayomi dan bertanggung jawab. Mungkin hanya satu kekurangannya menurutku, dia agak kurus. Dan… usia kami terpaut cukup jauh. Kami saling mengenal sejak kecil. Kegiatan di karang taruna membuat kami sering bertemu. Dia sering menggodaku dengan berbagai rayuan dan perhatiannya. “Duh… kenapa orang ini? Bikin GR aja. Nggak mungkin dia suka sama aku. Aku terlalu muda untuknya.”, batinku saat itu. Walaupun sebenarnya jauh di lubuk hatiku memendam rasa bahagia yang tak terkira. Sebenarnya aku agak lupa kapan tepatnya aku mulai mengaguminya sampai aku jatuh hati kepadanya. Banyak orang mengatakan perasaan mengagumi itu tidak akan bertahan lama. Kata siapa? Aku masih menganguminya, sampai…

***

Kini aku sudah beranjak dewasa. Aku sudah duduk di bangku SMA kelas 3. Saat itu aku sudah tidak lagi menjadi anggota, tetapi bendahara di karang taruna. Dan dia yang menjadi ketuanya. Kebetulan bertepatan menjelang HUT RI. Karang taruna kami berencana menyelenggarakan acara Agustusan untuk memeriahkannya. Segala persiapan untuk lomba dan pensi kami lakukan. Kesempatan itulah yang membuat kami semakin dekat karena seringnya bertemu dan berinteraksi. Tak jarang dia mengajakku keluar, walau hanya sekedar makan atau jalan-jalan. Tetapi, aku menolaknya. Aku tidak enak kalau sampai ada tetanggaku yang mengetahuinya. Bisa-bisa timbul gosip yang tidak-tidak. Dan yang membuatku tercengang, dia sempat mengungkapkan bahwa dia benar-benar serius kepadaku dan ingin melamarku.
“Aku sayang sama kamu, dek.”, katanya sambil menggenggam kuat tanganku. Wajahnya berubah serius.
“Hahaha, apa sih mas ini.”, jawabku sambil tertawa. Aku berpura-pura santai. Padahal dag dig dug der sekali hatiku saat itu.
“Aku serius.”, sahutnya.
Aku belum berkata apa-apa, dia sudah kembali berbicara. “Aku mau ngelamar kamu.”
Aku melihat keseriusan tampak di matanya. Kali ini aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa dan tak sanggup lagi untuk menatap matanya. Aku benar-benar luluh dibuatnya. Perasaan kaget, tidak percaya, dan bahagia bercampur menjadi satu dengan porsi dominan bahagia. Aku pulang memberi tahu hal membahagiakan ini kepada ibuku. Dan lebih membahagiakan lagi ketika mendengar ibuku menyetujuinya. Dia memang calon menantu idaman ibuku. Dan aku tentunya. Bukannya aku pilih-pilih dalam mencari pasangan, hanya saja aku takut salah pilih. Karena pasanganku adalah orang yang akan menjadi pemimpinku kelak. Jadi, aku mencoba untuk sedikit selektif dalam memilihnya. Dan sosok seperti Mas Roni lah yang aku impi-impikan menjadi imamku. Aku percaya mimpiku itu akan segera menjadi nyata.

***

Pagi dalam gelap. Suara ayam berkokok bagaikan nyanyian wajib dikumandangkan untuk menyambut pagi. Ditemani alunan irama suara burung yang riang. Tetapi, bukan suara-suara itu yang membangunkan pagi itu. Melainkan suara ramai dari ibu dan para tetanggaku yang membicarakan tentang kabar yang menyeramkan. Aku mengumpulkan nyawaku dan mulai mencoba mendengarkan pembicaraan mereka. Samar-samar aku mendengar kata kecelakaan. Dan… mereka menyebut nama Mas Roni. Langsung saja aku bangkit dari tidurku dan bergegas keluar menghampiri arah suara tersebut.

“Buk, ada apa?”, tanyaku tak santai.
“Kecelakaan.”, jawab ibuku seraya menapku.
“Siapa? Siapa yang kecelakaan?, aku mulai panik.
“Roni.”, jawab ibuku lirih.
Tanpa berkata apapun aku langsung berlari ke kamar dan mengunci pintuku. Aku bersandar di pintu, butiran air mata keluar dengan derasnya. Tapi aku menahan suara tangisku, aku tak mau sampai tetanggaku mendengarnya.

Sore harinya, aku berangkat ke rumah sakit bersama sepupuku dengan diantarkan oleh kedua teman Mas Roni.
Sesampainya di rumah sakit, sebelum aku melihat kondisinya, aku bersalaman dengan sanak saudaranya yang berada di situ. Tak lama, kemudian aku masuk melihat kondisinya. Aku hanya terdiam melihat kondisi lelaki yang berada di kamar rawat itu. Sosok yang selama ini menemaninya dan mengisi hari-harinya, kini dijumpainya dengan keadaan yang memprihatinkan. Selang infus terpasang di tangannya. Lehernya dibalut dengan kain berwarna coklat yang aku tak tau apa namanya. Dan yang paling membuatku benar-benar seperti kehilangan separuh nyawa adalah mengetahui bahwa tulang kakinya patah. Dia menyuruhku duduk di sampingnya. Dia masih riang seperti biasa, tertawa dan mengajakku bercanda, seperti tak menahan sakit apapun di badannya.
Alhamdulillah tak sampai seminggu dia sudah diizinkan pulang. Baru beberapa hari, dia sudah terlihat pergi ke masjid untuk melakukan sholat Jum’at. Dengan penyangga kaki yang membantunya, dia berjalan ke masjid. Subhanallah. Terharu bercampur terkesima aku melihat lelaki itu. Lelaki model apa yang Kau ciptakan ini Ya Allah? Akankah dia benar-benar menjadi imamku? Semoga Engkau mengabulkan Ya Allah… Aamiin… Sepenggal do’aku saat itu.

***
Sore beranjak malam. Matahari telah hilang ditelan bumi. Suara adzan pun berkumandang. Aku bergegas mengambil air wudlu dan melaksanakan perintah Allah. Selepasnya, seperti biasa aku melanjutkan membaca Al-Qur’an. Selepasnya, aku bersila di depan laptop kesayangan. Tak lama kemudian ibuku datang. Duduk di sampingku. Ibuku memulai percakapan.

“El, gimana keadaan Mas Roni?”, tanya ibuku.
“Katanya udah baikan Bu.”, jawabku sambil menyalakan laptop.
“Alhamdulillah…”, kata ibuku.
“Iya, Alhamdulillah Bu… Semoga dia cepet sembuh.”, kataku sambil memeluk ibuku.
“Aamiin…”, ucap ibuku. Kemudian aku melepaskan pelukanku. Kami hening sejenak.
“El…”, panggil ibuku.
“Iya, Bu…”, aku menjawab.
“Tadi malam ayahmu cerita kalau sebenarnya Mas Roni lebih dulu berbicara dengan ayahmu tentang niatnya untuk melamarmu.”, ibuku mulai menjelaskan.
“Terus, Bu… Terus?”, tanyaku semangat.
“Sebenarnya ayahmu setuju dengan hal itu. Tetapi, setelah ditelusuri silsilah keluarga, ternyata kamu masih ada hubungan darah yang melarang kalian untuk menikah.”, jelas ibuku.

Seketika hatiku hancur. Seperti ada duri tajam yang menusuk dalam ke dalam hatiku. Dadaku sesak menahan air mata yang berlomba-lomba ingin menetes. Tetapi, aku tidak bisa melakukannya di depan ibuku. Aku juga tidak bisa membantah. Aku tidak bisa menentang takdir.
Tak ada satu katapun yang keluar dari mulutku. Ibuku seperti mengerti bagaimana sakitnya perasaanku saat itu. Aku masih tak percaya. Bagaimana mungkin ketulusan cinta dan kesucian niat kami yang selama ini bisa dipatahkan begitu saja oleh keadaan? Keadaan yang membuat aku dan dia tidak bisa bersatu. Keadaan yang memaksa kami untuk membuyarkan cinta tulus dan semua impian indah yang telah terukir. Akhirnya, mau tidak mau kami memutuskan untuk berpisah. Demi kebaikan kami berdua dan juga kebaikan keluarga kami.
Karya Alif Fatin Fadhilah

9 Maret 2015

WANITA PENGHUNI MASJID

Hari ini cuaca panas sekali matahari dengan garang memuntahkan sinarnya tanpa memperdulikan manusia-manusia yang menyeringai karenanya. Dengan sebuah sapu tangan kulap keringat yang membasahi wajahku, kulihat jam tanganku pukul 12.45 waktu sholat dzuhur telah tiba. Aku bergegas menuju mesjid untuk sholat sekaligus tempat untuk berteduh setelah seharian menjajakan barang asonganku.

Seperti biasa kuletakkan barang daganganku di halaman mesjid dan menuju kamar mandi untuk berwudhu. Siraman air sumur yang dingin menyegarkan wajahku yang sejak pagi tak terkena siraman air selain air keringat. Setelah menyelesaikan wudhu aku kembali ke mesjid untuk sholat. Didalam mesjid seorang wanita memakai kerudung yang menutup seluruh bagian tubuhnya sedang duduk dengan sebuah al qur’an berada tepat dihadapannya. Dari bibirnya keluar alunan bacaan ayat-ayat suci yang juga biasa aku baca. Mestinya ayat-ayat suci yang ia baca bukanlah membuat aku tertegun atau merasa berbeda. Namun karena alunan ayat-ayat itu keluar dari bibir wanita itu menyentuh hatiku. Kunikmati setiap lafaz ayat suci yang ia alunkan tanpa sadar air mataku menetes. Tanpa terasa 15 menit aku mendengarkan wanita itu membaca Qur’an. Sungguh wanita ini sangat beruntung hamba allah yang sholehah.

Setelelah selesai membaca al Qur’an wanita itu berdiri dan kemudian sholat. Kuamati setiap gerakan sholatnya dari takbiratul ikhram sampai salam. Selesai sholat aku melihat ia mengangkat tanngan sejajar bahu seraya membuka kedua telapak tangannya, ia seperti mengatakan sesuatu tapi aku tidak mendengar jelas apa yang ia ucapkan dan terkadang air matanya menetes membasahi wajahnya.

Selesai sholat wanita itu membuka kerudung yang dikenakannya lalu keluar dari mesjid aku tertegun wajahnya cantik sekali, mungkin tak ada satupun wanita secantik ia yang pernah aku lihat sebelumnya bidadari pikirku dalam hati tapi saat aku ingin memperjelas melihatnya wanita itu berbalik kemudian pergi meninggalkan mesjid dari pintu yang disebelahnya. Aku tahu kalau ia bukan masyarakat sekitar mesjid soalnya sudah lama aku selalu sholat di mesjid ini kalau pun ia mungkin baru pulang dari merantau.

Setelah selesai sholat aku kembali menjajakan barang daganganku diantara orang-orang yang lalu lalang di perempatan jalan. Tanpa terasa hari sudah mulai galap kukemasi seluruh barang-barangku tepat pukul 19.00 aku tiba di rumah kuletakkan barang-barangku didalam kamar kost ku kemudian sholat maghrib.

Selesai makan malam aku menghitung uang yang aku peroleh tadi siang dan menghitung barang dangangan yang akan ku beli besok pagi sebelum aku pergi berjualan. Hari ini aku mendapat laba hanya sedikit tidak seperti hari-hari biasanya dan mungkin karena banyaknya orang-orang orang yang menjadi pedangan asongan karena sulit untuk mencari kerja.

Kurebahkan tubuhku dan memejamkan mata ntah kenapa kejadian tadi siang melintas dalam pikiranku wajah wanita itu seakan menjelma dalam anganku, mungkinkah aku suka padanya atau mungkin hanya rasa kagumku yang berlebihan, sungguh dia wanita yang berbeda dan sangat jarang di zaman sekarang ini. Aku selalu berpikir tentang orang-orang yang dekat dengannya orang-orang yang selalu membuatnya tertawa terutama kekasihnya sungguhlah ia beruntung mendapatkan gadis yang cantik dan sholeh.

Keesokan harinya aku lebih awal ke mesjid dari biasanya dan berharap aku bisa bertemu dengannya lagi tetapi sampai waktu dzuhur selesai wanita itu tak muncul-muncul. Aku merasa bodoh mengapa aku harus berharap bertemu dengannya pada hal aku sama sekali tidak mengenalnya dan aku juga nggak pernah melihatnya. Hari berikutnya aku juga tidak berjumpa dengan wanita itu lagi berhari-hari dan bahkan sebulan aku tak pernah melihatnya lagi dan setiap orang yang aku tanya tidak pernah tau siapa wanita yang sholat di mesjid pada waktu itu.

Akhirnya aku mendapatkan penjelasan dari orang tua yang berada dimesjid nampak jelas kalau ia telah berusia lanjut rambutnya berwarna putih dengan jenggot yang menghiasi wajahnya yang sudah keriput, berkulit putih bersih serta mengenakan jubah yang juga berwana putih, ia mengatakan bahwa wanita yang aku lihat pada waktu itu adalah penunggu mesjid, ia juga mengatakan bahwa wanita itu akn menampakkan dan sholat dan membaca Qur’an saat mesjid sedang sepi dan saat waktu sholat tiba tapi wanita itu lebih sering menampakkan dirinya saat menjelang maghrib. Jika ia terlihat pada siang hari mungkin sesuatu akan terjadi di mesjid atau sesuatu akan terjadi pada orang yang melihatnya terkadang sesuatu hal yang baik dan terkadang hal buruk. Mendengar penjelasan penjaga mesjid itu bulu kudukku berinding, aku bertanya berarti yang kulihat itu see taaan? aku melihat sekeliling mesjid dan saat aku menoleh lelaki tua itu menghilang aku bertambah bingung dan rasa takut yang amat sangat. Dalam hatiku berfikir mungkinkah orang-orang yang selama ini sholat disini adalah makhluk halus?

aku bukan seorang penulis.

Merasakaan perasaan orang lain itu memang sulit, yap memang sulit bahkan tidak mungkin. Tapi apakah kamu tidak sedikit untuk berusaha mengerti apa yang dia mau, dia orang yang pernah kau bilang orang yang kau sayang. 'Yang kau bilang' mungkin itu semua hanya sebuah perkataan yang kau sampaikan lewat handphone(sms), yang jauh dengan sebuah kebenaran. Bisa saja kau berkata seperti itu, untuk sejenak menghibur hati. Menghibur hati seseorang yang memang benar-benar sayang kepada kamu. Kamu itu terlalu jahat, memilih-pura2 mencintai-mengecewakan-membantah-berjanji dan mengingkari semua janji itu, ah itu semua omong kosong bahkan engkau rela membuatnya sakit hati. Engkau tau apa itu sakit hati? Disakiti orang yang engkau sayang, pernah merasakan? Mungkin tidak, ah bukan mungkin pasti tidak. Aku selalu jelaskan apa yang aku rasakan dan engkau tau engkau pun kembali berpura-pura. Berpura-pura mengerti perasaan-dan berjanji untuk tidak mengulangi semuanya. Yah, semuanya yang membuat aku tidak nyaman dan merasa sakit hati saat engkau melakukannya. Aku perempuan yang memang benar-benar sayang. Sayang sama kamu, bukan seperti kamu yang berpura-pura sayang. Jujur, perasaan ini memang tidak bisa hilang meskipun engkau tlah membuat luka, dan berulang kali melakukannya. Ajari aku untuk tidak menyayangi mu, seperti kamu. Seperti kamu yang melakukan semuanya! Aku mengerti mungkin sedikit perkataan dan beberapa pukulan ku membuat engkau merasa tidak dihargai. Tapi coba untuk berpikir, apakah sama? Sama seperti sakit hatinya aku, itu mustahil."Main Hati" sangat tidak enak untuk di dengar bukan? Di dengar, dibaca pun sangat tidak enak. Apakah aku terlalu posesif melakukan hubungan ini? Aku rasa tidak, aku hanya tidak mau untuk kelihangan mu. Saat kamu bersama dia, yaaaaaaaaaaa dia orang yang aku benci. Aku tidak melarangmu untuk bergaul dengan siapa aja, mengatur mu untuk melakukan apa aja. Bahkan, aku tidak melarangmu melakukan semua hobi mu. Semua hobimu yang membuat kamu lupa, lupa waktu dan lupakan aku. Mungkin aku cuma ingin, 'cuma' ingin kamu mengerti-menyadari dan tidak berpura-pura untuk menyayangi orang yang memang benar-benar sayang, kepada kamu.

1 Maret 2015

Kenangan Terindah

Kenangan Terindah, bukan hanya Kenangan yang kita buat
dengan orang yang menurut kita Indah dalam hidup kita. Kenangan Terindah adalah
kenangan yang tidak dapat terlupakan sampai kapanpun, pasti kita akan selalu
teringat dengan kejadian yang menurut kita adalah kenangan terindah dalam hidup
kita.
Aku menuliskan kenangan kita berdua, saat pertama kali kita
menikmati indahnya masa-masa pacaran kita. Ku tuliskan kenangan itu ke dalam
sebuah lagu yang ku buat untuk mu sebagai permintaan maafku, karena ku tlah
membuat sebuah kesalahan besar kepadamu.
Biarkanlah ku kenang semua cerita kisah kasih cinta kita
berdua, biarkanlah ku nyanyikan lagu yang ku buat untukmu sebagai satu tanda
permintaan maafku kepadamu. Biarkanlah hati ini yang merasakan betapa pahitnya
cinta, saat ku harus melepasmu untuk orang lain. Biarkanlah tangan ini yang menulis
dan mencurahkan semua perasaan sakit yang saat ini ku rasakan. Dan biarkan
sajalah biarkanlah aku yang merasakan kesedihan ini sendiri, ditempat yang
gelap nan gulita dan kesepian yang menemaniku malam ini untuk menuliskan perasaan
hatiku.
Suara gemercik air hujan yang turun, membasahi kertasku yang
penuh dengan tulisan tanganku. Yang menceritakan kisah kasih cinta antara kita
berdua, yang telah berlalu. Mungkin suatu saat nanti ‘kan kau lupakan sebuah kejadian
yang telah kita lalui bersama, yang bisa ku anggap itu adalah Kenangan Terindah
saat ku bisa bersamamu saat itu.
Angin yang berhembus menerpa tubuh ini didalam kegelapan, ku
berjalan menulusuri jalan yang kecil dan nan yang tidak bertuan. Ku temui tikus
tikus hitam kota yang kotor, yang berkeliaran dimalam hari memasuki celah-celah
lubang yang berada dirumah-rumah warga diperkotaan. Hingga ku menemui suatu titik cahaya yang terang menderang didepanku. Apakah itu pintu menuju masa depanku?
Tinta yang tumpah menutupi coretan-coretan tulisan tanganku.
Haruskah aku ikhlaskan kau untuk bahagia bersamanya? Haruskah aku menutup kisah
kasih cinta diatara kita berdua dengan kata “Selamat Tinggal Kasih, Bahagialah
bersamanya. Ku yakin kau kan bahagia bersamanya, untuk sekarang dan selamanya.”
? Dan haruskah aku menghapus bayang-bayang kelam yang telah ku lalui bersamamu
dulu?
Sepertinya aku tidak mungkin bisa menghapus bayang-bayang
kelam itu, meskipun kau telah bahagia bersamanya. Aku yakin bayang-bayang kelam
itu akan datang dan menghampiri ku setiap waktu. Karena ku anggap bayang-bayang
kelam itu adalah sebuah Kenangan Terindah bersamamu.
Kenangan Terindah
Oleh : Susanto Usman
Seberapa banyak dedaunan yang
Terhempas dan terjatuh
Sebanyak apakah butiran air matamu
Yang membasahi pipimu
Sejauh apakah kau melangkah
Agar kau dapat melupakanku
Sejauh apapun kau berjalan
Mentari, dia akan tetap terus menyinari jalanmu
Ku tuliskan semua tentangmu
Dengan tinta hitam dan pena
Ku coretkan sebuah coretan hitam
Diatas kertas putih nan bersih
Ku tuliskan namamu diatas kertas putih nan bersih itu
Dan juga dihatiku
Kan ku kenang semua canda tawa dirimu
Dan tak ku lupakan dirimu
Walaupun kau lupakanku
Aku seperti sebuah sercacik kertas yang kotor
Didalam hidupmu
Ku hanya dapat membawa sejuta luka
Ke dalam kehidupanmu
Kenanglah semua kenangan kita
selagi kau bisa mengenangnya
Lupakanlah semua kenangan kita
selagi kau mampu melupakannya.

27 Februari 2015

Semua ini Membingungkan Bagi Ku

Saat aku mengenal mu hati ini merasa ada yang hampa, tapi apa, aku tak mengetahui apa yang membuat hati ini hampa?. Disaat aku mulai beranjak dewasa aku pernah mendengar bahwa berpacaran itu adalah hal yang positif tapi setelah medengar perkataan dari teman teman ku berpacaran itu memang ada sisi positif dan sisi negatif dan itu tergantung orang yang merasakannya, jadi aku berkata pada diriku keropi kamu harus konsentrasi pada pelajaran bukan hal hal yang dapat membuat mu merasa dirugikan nantinya.
Setelah pulang sekolah dan sampai di rumah aku beristirahat sejenak dengan memikirkan imajinasi/khayalan yang dapat membuat ku sedikit terasa tenang karena sewaktu sekolah tadi pelajaran yang dipelajari semua menguras otak ku dan benar benar membuat bingung itu bisa sedikit terobati.
Tak terasa hari sudah sore dan ku lihat jam di hp telah menunjukkan pukul 16.35 dan tiba tiba hp ku berbunyi dan ternyata ada yang mengirim pesan, sontak dengan perasaan gembira dan tak karuan ini membuat ku salah tingkah dan ku baca ternyata dia juga ada rasa sama diri ku yang sebelumnya aku telah smsan ya itu rahasia ya, tapi ada juga perasaan yang membuat aku sedih karena pada waktu itu dia masih berpacaran dengan teman ku dan itu membuat ku bingung.
Setelah sekian banyak hari berlalu dia yang pernah membuat ku merasakan itu cinta dan dia juga yang telah membuat ku merasakan bagaimana rasa nya sakit hati, dia telah menjaga jarak dari ku dan tidak pernah lagi smsan atau pun sedikit mengobrol di kelas, aku merasakan sakit hati yang teramat dalam setelah mendengar apa yang seharusnya dia katakan langsung kepada ku dan seharusnya tidak memberiku harapan untuk menyukainya dari mulut sahabat ku sendiri, setelah mendengar apa yang membuat aku sakit hati aku langsung berkata pada diriku, “keropi kamu itu seharusnya tidak menyukai dia kamu itu seharusnya tidak mengatakan hal itu dan kamu itu sudah sepatutnya untuk membenci dan tidak mempercayai dia yang berwajah malaikat tapi berhati tidak jujur itu”, dan saat aku mengatakan hal itu pada diri ku sendiri aku menjauhinya dan berusaha melupakannya namun itu semua sia sia, aku tetap tidak bisa melupakan rasa itu untuk waktu yang lama tapi aku dan dia masih tetap sahabatan.

Perlukah Aku Berbicara Banyak Masalah Hati?

Mengingat apa yang sudah aku lalui hingga sejauh ini, lika-liku hidup, ratusan persimpangan juga keteguhan hati yang seringkali terombang ambing. Sadar, aku bukan apa-apa di mata Mu ya Tuhan. Saat tak ada seorang pun yang mengerti perasaanku, saat tak satu pun paham akan mauku.. hanya berbincang dengan Mu lah aku merasakan ketenangan batin yang luar biasa.
Termasuk berbicara masalah hati, hanya bersama Mu aku begitu leluasa berbagi keluh kesah yang dirasakan hati. Ya, meskipun tak berjawab tapi aku tahu Tuhan mendengarkan semua ungkapanku dan aku percaya akan ada rencana-rencana baik yang Tuhan simpan untukku. Sampai saat menulis ini aku masih dalam keadaan bimbang. Perasaanku yang sejak dari tadi kalut seakan semakin menjadi-jadi ditambah gerak pikirku yang tak berarah.
Yang pasti, aku sedang memutar ingatanku, mengenang kisah-kisah absurd nan indah yang terjadi bersama teman-temanku berjalan tiga tahun ini. Tawa kecil hingga rasa sebal tak terhindar kala mengingat perjalanan kami. Tapi apapun itu, akan ada tempat tersendiri di hati dan memori otakku untuk hal yang teramat istimewa ini. Kelak di masa yang akan datang aku berharap Tuhan memberiku kesempatan mempunyai keluarga kecil, dan akan aku ceritakan kepada mereka kalau aku pernah begitu bahagia melalui perjalanan panjang mencari jati diri bersama teman-temanku..

Namun ada yang lain, yang membuatku begitu kalut. Aku tak paham bagaimana mengartikan keadaan ini, perasaan ini bertumbuh melebihi batas yang kutahu. Berada di posisi ini benar-benar menerbangkan ingatanku pada masa sulit dimana sakit hati bukan disebabkan karena orang lain semata, tapi karena diri kitalah yang membiarkan keadaan itu menyakiti kita. Tak jujur, tak saling mengungkapkan, bersama tapi tak pernah tau ada perasaan berbeda di dalamnya. Perih bukan? Salah siapa? Mari introspeksi diri
Jika boleh meminta Tuhan, aku ingin saat ini, saat dimana aku membutuhkan seseorang untuk menguatkanku. Aku ingin sosok itu nyata. Sosok yang mampu membuatku nyaman, sosok baik, menguatkan, mendukungku, membantuku dan menemaniku memperjuangkan masa depan. Sampai saatnya aku berhasil menjadi sosok kebanggaan kedua orangtuaku.
Ku tau tak mudah, tapi akan ada kepuasan tersendiri ketika aku berhasil memperjuangkan mauku. Tapi semua itu adalah kosong jika tanpa sosok pendukung. Yang memberikan pundaknya saat aku lelah berjuang, memberi semangat saat aku rapuh, dan di sampingku bahkan dalam keadaan terburukku.
Buat kamu yang aku maksud, aku mau kita sama-sama berjuang. Semua memang tidak mudah, tapi kalau Tuhan mau kita akan bersatu. Semua butuh proses, kita sama-sama punya prioritas dalam hidup dan ada saatnya semua yang kita perjuangan akan berbuah manis. Aku memang tidak pernah bicara banyak masalah hati, tapi yakinlah aku tidak main-main. Aku lebih suka menyebut namamu dan berbicara masalah hati dalam perbincangan panjangku bersama Tuhan. Setiap pertemuan adalah goresan baru dalam kertas putih. Dan aku berharap tak ada penghapus yang mampu menghilangkan hari-hari menyenangkan yang pernah kita lalui.
Jadi, bahagia itu sederhana. Bisa menatapmu, sedekat waktu itu, meskipun tak kau sadari, Sekarang aku paham, kamu memang berbeda, dan kamu memang pantas merenggut perhatianku tanpa sisa. Aku tau ini bodoh, terlalu banyak perasaaan asing yang mulai menguras hari-hariku dan hari-harimu. Ada banyak cerita yang sepertinya tak mampu diwujudkan lewat kata, karena terlalu rumit untuk dijelaskan. Perasaan itu berlomba-lomba merusak hati dan otakku, hingga aku malu menyebutnya… rindu.
Karena mulai nyaman pada hangat sapamu lewat pesan singkat, terlalu cepatkan jika aku menyebutnya cinta? Aku tak pernah berharap semua ini (mungkin) hanya ilusi. Aku tak percaya tentang cinta tanpa tatapan mata juga tanpa genggaman tangan yang belum saling bersentuhan. Tapi, entah mengapa, aku merasa takut kehilanganmu. Aku tau, aku tak punya apapun yang pantas kubanggakan. Namun atas semua yang terkesan maya namun terasa nyata ini; aku jatuh cinta.
Ini sudah frasa kata kesekian yang aku rangkai menjadi kalimat, dan entah mengapa sosokmu selalu berada disana. Hitam dan putih menjadi lebih berwarna ketika sosokmu hadir mengisi ruang-ruang kosong di hatiku. Ada sebab yang tak ku mengerti. Namun, ada banyak harapan yang tak mungkin aku bahas disini. Jika boleh meminta.. jadilah masa depanku.

16 Februari 2015

Pitology

Saya orang yang punya banyak hutang.  Maksud saya hutang budi. Hutang baca dan hutang tulisan juga ada, namun itu sekadar proyek pribadi. Hutang duit sih rahasia. Dan masalah  hutang budi, saya sepakat bahwa soal itu adalah perkara yang sulit tagih dan lunasnya. Akadnya juga demikian. Namun saya penghutang yang tahu diri. Kini atau kelak, sekarang atau nanti, saya akan bayar hutang itu pelan-pelan.

Saya bicara soal seorang kawan, sekaligus guru. Sosok yang membuat saya berhutang budi kepadanya. Sosok yang menawarkan saya ragam cara pandang baru untuk melihat hidup.  Menertawakan hidup yang getir, sekaligus menjalaninya dengan berani. Kawan saya ini juga mengajarkan saya tentang bagaimana menulis. Secara teknik maupun soal bagaimana menggairahinya.

Medio Juni 2010, kami berkenalan. Tentu lewat media yang kami puja sekaligus paling sering kami rutuki: internet. Melihat minat sekaligus betapa belepotannya saya menulis, ia tertarik mengajari. Dan akhirnya saya ikut di kelas menulis online yang gratis sekaligus galak.  Saya adalah gabungan murid yang rajin salah ketik, gagap teknologi, kaku merumuskan gagasan, sekaligus abai di tanda baca. Kawan saya itu, guru saya itu, dengan caranya yang unik mengajari  saya keras-keras di fitur chatting sebuah situs jejaring.

Mengingat reputasinya, tentu ia bukan guru yang asal. Ia sudah bergelut di dunia tulisan sedari lama. Tapi saya yakin, tak akan kamu jumpai namanya di kelas-kelas menulis berbayar, di jurnal-jurnal, atau di forum-forum yang kaku. Tapi ia selalu ada di lingkaran orang-orang keren. Begawan-begawan dunia maya. Di usia yang 19 tahun, ia sudah menerjemahkan buku tulisan Dostoyevsky. Tak lama, ia  menerjemahkan salah satu buku yang dikeluarkan penerbit yang karib dengan tema-tema subversif. Sisanya, ia menulis freelance. Terkadang cuma sekadar "bermain-main” menuntaskan kesenangan pribadi. Tapi yang jelas, ia  benar-benar hidup dengan menulis.

Hal menarik yang ia tawarkan pada saya adalah keberanian. Bagaimana berani mengkaji ulang pemahaman yang selama ini sudah tertanam di balik tempurung kepala karena nilai-nilai yang disepakati sedari kecil. Juga soal bagaimana menerima perbedaan. Banyak hal lain sebenarnya yang ia sampaikan dengan caranya yang unik, di sela-sela kelas menulis kami.

Sampai suatu ketika, saya merasa cukup. Saya bukan tipikal orang yang mudah puas belajar, sebenarnya. Namun saya merasa, apa yang ia sampaikan sudah banyak. Dan saya akan memanfaatkan bekal yang saya peroleh darinya untuk menggali hal-hal baru. Itu akan lebih membuat saya merasa berkembang.

Pernah dengar kisah Palgunadi? Dia adalah seorang  dari kasta rendah yang hendak belajar memanah pada Begawan Durna. Karena Durna hanya mengajar trah ksatria,  Palgunadi  ditolak. Ia pun lantas membuat patung Begawan Durna, dan diletakkannya di dekatnya saat ia berlatih memanah sendirian. Seolah-olah, ia berlatih dalam pengawasan Durna.

Saya barangkali bisa mengibaratkan laku Palgunadi itu. Kini, setiap menulis, saya seringkali teringat saat diomeli, di”bentak”, sekaligus digerutui oleh kawan sekaligus guru saya itu. Namun saya sepakat, apa yang ia lakukan semata-mata demi kebaikan.

“Sorry, gue orangnya berantakan. Tapi untuk menulis, gue rapi”. Itu yang sering ia bilang.
Atau seperti ini, “ Nyeeettt!! Itu tanda baca gak bener juga! Tanda baca itu common sense kok”.  Saya hanya tergelak cengengesan di depan monitor.

Sekali lagi, saya orang yang risih sebenarnya kalau punya hutang, apalagi hutang budi. Jadi saya harus membayar pelan-pelan. Untuk kasus ini, saya akan membayarnya dengan terus menulis. Meski soal hal-hal yang barangkali tidak penting. Barangkali itu bisa jadi bagian membayar hutang saya.  

Kisah Pejalan yang Terlampau Jauh


Ketika kehidupan sudah sedemikian karib dengan nilai-nilai dan kesepakatan yang bermuara pada kepalsuan, apa yang hendak kamu lakukan? Muak, lalu mengumpat dan bersumpah serapah? Mengikuti arus dan berserah? Atau menciptakan counter culture sendiri, yang terkesan utopis dan semacam onani konyol? Entahlah. Banyak hal yang mungkin bisa kita lakukan, salah satunya meninggalkan itu semua dengan proses transaksi internal yang bulat, bahwa apapun yang kita jalani adalah pilihan sendiri, pantang mengeluh dan menyalahkan orang lain. Sisanya, bersenang-senang merayakan kehidupan. Ya, bersenang-senanglah. Jalani hidup dengan berani.


Seperti yang dilakukan oleh Christopher McCandless di film Into The Wild, besutan sutradara kawakan Sean Penn, yang bertolak dari buku karya John Krakauer dengan judul yang sama. Film yang bermula dari kisah nyata ini menceritakan petualangan seorang pemuda bernama Christopher McCandless, 22 tahun, yang meninggalkan banyak hal yang lazim ditempuh oleh orang kebanyakan, sebab ia terlampau jenuh sekaligus muak dengan nilai-nilai yang disepakati masyarakat secara umum, sadar ataupun tidak.


Chris - begitu ia biasa dipanggil-, adalah seorang pemuda Amerika yang baru saja menamatkan studinya di Emory University dengan nilai memuaskan, sehingga punya kesempatan untuk mengenyam pendidikan bergengsi di Havard University. Tapi alih-alih melanjutkan sekolahnya, selepas wisuda, Chris malah membuat sebuah keputusan yang mencengangkan. Ia memutuskan untuk meninggalkan semua yang ia miliki. Ia hendak memulai sebuah babak kehidupan yang baru. Menjadi seorang pengembara. Seorang pejalan. Jauh, terlampau jauh. Alaska yang dingin adalah perhentiannya.


Maka Chris, selayaknya seorang manusia baru, mengganti namanya menjadi Alexander Supertramp. Alex, si gembel super. Ia menguras tabungannya sebesar 24.000 dollar untuk kemudian disumbangkan ke Oxfam, sebuah lembaga sosial. Uang tunainya juga ia bakar, segenap kartu identitas ia gunting dan rusak. Alex, si Christopher McCandless yang baru, meninggalkan lingkaran orang-orang terdekatnya dengan kekecewaan sekaligus sebuah perasaan baru untuk mengarungi hidup. Kekecewaan terhadap keluarganya yang kelewat matrealistis, juga terhadap tatanan sosial yang dirasanya penuh kepalsuan.


Perjalanan Alex sebagai seorang manusia baru semakin berwarna setelah di jalan ia berkenalan dengan banyak orang yang menarik. Bukannya mengurungkan niatnya untuk mengembara, Alex justru semakin antusias untuk mengembara setelah bertemu dengan orang-orang itu. Bertemu pasangan hippies bernama Rainy dan Jan Burnes, Wayne Westerberg si petani gandum yang akhirnya ditangkap polisi, juga seorang veteran bernama Ronald A Franz yang hendak mengangkatnya sebagai cucu.



Dalam perjalanannya, Alex ditemani buku catatan harian yang merekam setiap jejak dan renungan-renungannya. Alex juga setia membawa dan membaca buku-buku karangan Leo Tolstoy, Jack London, dan Boris Pasternak. Perjalanan Alex berakhir di sebuah bus rongsokan yang teronggok di Alaska. Di sana Alex, menghabiskan usianya. Di bus itu, yang disebutnya "Magic Bus", Alex menandaskan renungan-renungan soal perjalanan hidupnya sambil tetap bertahan hidup di Alaska sendirian. Ya, sendirian. Berkawan dengan dinginnya udara Alaska, sekawanan rusa, jernihnya sungai, dan pohon-pohon hijau. 

Sean Penn menggarap film ini dengan penuh detail. Sangat detail. Tak ayal, film ini riuh oleh bermacam kategori nominasi award. Akting-akting pemerannya sangat natural, dialognya terasa nyata dan jauh dari unsur dibuat-buat. Khusus untuk Emili Hirsch, pemeran Alex sekaligus Chris, ada apresiasi tersendiri. Ia berhasil mendalami karakter yang dibalut perasaan getir memandang hidup, kecewa, tapi juga menyimpan sorot mata keberanian mengarungi hidup dengan mengharu biru. Sean Penn juga brilian memainkan alur, yang campuran antara alur flashback dan alur maju. Timingnya pas. Penn juga tidak mengkultuskan sosok Chris sebagai seorang hero, tapi sebagai anak manusia yang penuh dengan segala kemungkinan untuk menjadi naif sekaligus menjadi bijak. 

Film ini juga dibagi dengan chapter-chapter, sebagaimana bukunya. Pengambilan gambarnya yahud, belum lagi ditambah scene-scene yang mengambil capture pemandangan di kawasan Alaska, begitu memanjakan mata. Film semakin istimewa dengan soundtrack yang diisi oleh suara Eddie Vedder, dedengkot Pearl Jam itu. Suaranya berat, berkarakter dan penuh keharuan. Tanpa malu-malu, saya bahkan sempat meneteskan airmata ketika lagu berjudul Society dimainkan pada saat  scene Alex sedang berjalan melanjutkan kembaranya. Society, crazy indeed. I hope you're not lonely without me. 

Berbulan-bulan dalam mengarungi kesendirian di Alaska, Alex akhirnya harus berhenti. Tubuhnya semakin kurus dan kotor. Daya tahan tubuhnya menurun. Tapi semangatnya menjani hidup tanpa keluhan tetap tak surut. Ia meninggal setelah diduga mengkonsumsi kentang beracun. Mayatnya ditemukan oleh sekawanan pemburu sekitar satu minggu setelah kematiannya, di dalam bus yang ditinggalinya, tergolek di dalam kantung tidur yang dijahit oleh ibunya. Agak sedikit mengecewakan untuk sebuah ending film. Tapi ini kisah nyata, dan demikianlah keadaannya.

Perjalanan Chris ibarat sebuah laku asketik seorang pemuda naif. Di akhir hidupnya, sebelum maut menjemput, ia menuliskan sebuah kalimat yang dikutipnya dari novel Doctor Zhivago karangan Boris Pasternak. Ibarat sebuah kalimat pencerahan seorang pertapa dengan bus rongsokan sebagai pohon bodhi-nya. Bunyinya, "Happines only real when shared".

15 Februari 2015

Kesetiaan Separuh Jalan

Hari itu ketika ia dilahirkan dari rahim seorang wanita paruh baya, tangisan darinya mengundang haru kedua orang tuanya. Ketika itu juga disaat ia belum melihat dunia yang baru saja menyambutnya setelah perjanjian dengan Tuhan telah disanggupi. Suara adzan dari bibir ayah tercinta adalah hal pertama yang sengaja diperdengarkan tepat didepan kedua telinga. Lalu diciumnya kening sang istri sembari memeluk harapan yang baru saja dianugerahkan kepada mereka. Rasa sakit yang teramat sangat, keringat yang bercucuran dengan derasnya, dan darah yang mengalir kini terbayar sudah dengan lahirnya si buah hati. Gelisah dalam penantian, resah yang mengganggu jiwa, dan khawatir yang menggerogoti hati kini telah diusir pergi oleh pelukan sang istri disertai kerasnya tangisan seorang bayi perempuan.

Larut dalam bahagia tak menyadarkan mereka bahwa malam telah datang menghapus terang dan mulai menampakkan kegelapan. Walau demikian, mereka sedikitpun tiada gentar menghadapi kenyataan karena keyakinan mereka bahwa dia adalah lentera yang dapat memancarkan sinar terang dalam kegelapan. Hari demi hari silih berganti, putaran waktu takkan pernah berhenti hingga “ Nina Anugerah Qita ” adalah nama yang diberikan ayah kepadanya. Lengkap sudah kebahagiaan yang lama dinantikan, terpenuhi sudah balasan atas kesetiaan dalam suatu ikatan yang sah. Umur Nina kian bertambah artinya sisa hari-harinya didunia terus berkurang sampai “ kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa..hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia ” merupakan lagu lama yang baru pertama kali diperdengarkan dan mencoba terus untuk dinyanyikan. Airmata bunda tak tertahankan ketika Nina melantunkan lagu itu dengan senyuman tulus menyertai setiap syair lagu yang dinyanyikannya. Lalu rasa haru menyesakkan dada sang ayah tercinta disela kesibukannya mencari nafkah untuk hidup mereka. Airmata dan rasa haru tercampur menjadi satu membentuk harapan akan kebaktiaan seorang anak terhadap orang tua yang takkan pernah pudar rasa kasih sayang serta cinta kepada anaknya.

Suatu malam, ketika Nina mulai beranjak remaja. Musibah datang menimpa keluarga bahagia. Tiadalah hati dapat menyangka bahwa apa yang dilakukan ayah menghadirkan musibah yang mengharuskan mereka terpisah. Airmata menetes lagi, rasa haru hadir kembali sebab ayah terpaksa pergi untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatan yang dilakukan meski demi menghidupi keluarga yang dicintai. Ayah kini telah pergi meninggalkan sang istri, ayah juga pergi meninggalkan Nina yang tidak lagi bayi. Hari-hari mulai berat dijalani, segala masalah yang datang terasa menyudutkan. 

Namun kesetiaan seorang istri dalam menanti, dan kebaktian seorang anak dalam berbuat adalah kekuatan untuk menjaga keutuhan hubungan dari ganasnya godaan. Setiap hari, setiap malam, dan setiap bunda sendiri, airmatanya berlinang mengingat semua yang pernah dilakukan bersama suami tercinta sampai buah hati mereka sebesar ini. Ia mengingat ketika pertama menjalin cinta, ia tak lupa saat-saat tertawa bersama, ia mengingat ketika pertama mendengar tangisan dari Nina, ia takkan lupa pengorbanan yang dilakukan suami untuk dirinya sebelum dan setelah hadirnya Nina. Lagu yang pernah mereka nyanyikan bersama pun tidak lepas dari ingatan bunda bahkan tak jarang ia menyanyikannya dalam duka dan kesendirian.

Nina yang kini remaja mulai mengenal yang disebut cinta. Nina juga sering bercerita kepada bunda tentang lelaki yang dapat membuatnya merasakan tenang dan damai dalam hatinya. Bunda hanya terdiam mendengarkan tanpa dapat memberi tanggapan dan ia hanya melanjutkan hidup yang terbuai harapan. Anton, adalah laki-laki yang dimaksudkan Nina. Anton adalah laki-laki yang berlatar belakang hampir sama dengan Nina. Selain itu Anton juga merupakan lelaki yang hidup dengan apa adanya dan ia sama sekali tidak pernah mempermasalahkan keadaan keluarga yang diceritakan Nina kepadanya. Anton mencintai Nina dengan tulus, begitu pun Nina pada saat itu. Disela kesendirian bunda dalam menanti kedatangan suami tercinta, Anton dan Nina semakin menampakkan keutuhan hubungan mereka. Hubungan yang banyak menghadirkan rasa iri dari teman-teman yang mengenal mereka. Bahkan tidak sedikit orang yang mengatakan mereka adalah jodoh karena memandang kemiripan yang ada pada wajah mereka berdua. Hal-hal seperti itulah yang semakin pula memperkuat hubungan yang mereka bina bersama.

Tiga tahun berlalu, disaat ibu masih setia menunggu kehadiran suami tercinta. Cinta Anton dan Nina belum tergoyahkan walau Nina tak jarang mempermainkan cinta dan sayangnya Anton. Namun karena cinta yang tulus dan sayang yang begitu besar dan mengingat setiap pengorbanan yang pernah dilakukan, sesering apapun Nina membagi hatinya kepada laki-laki lain, Anton selalu bisa memaafkan dan mempertahankan keutuhan hubungan mereka. Suatu hari, Anton merencanakan sebuah kejutan yang nantinya akan diberikan kepada Nina pada hari ulang tahunnya yang ke_21. Anton dengan cinta tulusnya mulai menyisihkan sedikit dari uang sakunya yang memang tak banyak untuk ditabung. Hari-hari Anton selalu dihiasi bayangan akan kebahagiaan yang dirasakan Nina ketika nanti ia menerima kejutan darinya. Anton bahkan sering membuat teman-temannya bingung akan kelakuannya belakangan ini. Ia lebih sering tersenyum sendiri dan kata-kata yang keluar dari bibirnya adalah kata-kata yang tidak biasanya. Melihat tingkah Anton yang berbeda dari sebelumnya, Bimo yang merupakan teman baik Anton secara spontan bertanya kepadanya. “ Kejutan apa lagi yang akan kamu berikan kepada Nina disaat dia terus-terusan menyakitimu ? ” ucapnya dengan pandangan sedikit sinis. 

Anton yang mendengar pertanyaan itu pun dengan tenang menjawab, “ Sesering apapun Nina menyakitiku, seperih apapun hatiku, dan sebesar apapun kecewa yang kurasakan. Rasa sayang dan cintaku kepada Nina jauh lebih bisa kurasakan dan rasa itulah yang selama ini menguatkanku !! ”. Bimo tidak berhenti sampai disana, merasa belum puas ia kembali melontarkan kalimat tanya kepada Anton . “ Ooh yaa, jadi kamu mempertahankan Nina yang selama ini membagi hatinya untuk laki-laki lain hanya karena rasa sayang dan cintamu yang besar ? Apa balasan atas besarnya sayang dan cintamu kepada Nina ? Ngga’ ada Ton, ngga’ ada !! ” ucapnya kembali dan kali ini ia bertanya dengan raut muka yang kecewa. Seperti pertanyaan pertama, Anton menjawabnya dengan tenang bahkan lebih tenang, “ Iya, aku akan terus mempertahankan Nina sampai nanti aku merasa tidak mampu lagi untuk mempertahankan dia dihatiku. Aku juga tidak pernah mengharapkan balasan apapun atas besarnya sayang dan cintaku kepada Nina. Bim, hatikulah yang memilih dia, bukan ragaku. Mungkin itu yang membuat aku melakukan semua ini !! ”. Lantas apa bedanya dengan kita Bim, kamu yang terus menerus menemaniku saat susah ataupun senang sampai kamu rela mengorbankan jiwa dan ragamu hanya untuk mempertahankanku didekatmu ? Balasan apa yang pernah kamu dapatkan dariku atas semua pengorbanan itu Bim ? ngga’ ada Bim, belum ada !!, ucap Anton kepada Bimo. 

Bimo yang merasa ditampar oleh perkataan Anton hanya bisa terdiam merenungkan perkataan yang keluar dari bibir Anton. Ia sadar bahwa perkataan Anton terhadap dirinya memang ada benarnya, setiap apa yang kita lakukan tidak sepenuhnya berharap ada balasan. Dan mulai saat itu Bimo tidak lagi berkata apa-apa tentang kelakuan Anton. Melihat Bimo terdiam, Anton tidak tinggal diam. Anton mengajak Bimo untuk pergi ke sebuah toko emas. Anton dan Bimo kemudian memesan sepasang cincin bertuliskan nama Anton dan Nina. Setelah ia selesai memesan, mereka kembali pulang dengan senyuman menghiasi wajah keduanya. Bimo yang tadinya mendesak Anton untuk meninggalkan Nina berubah mendukung dan Anton yang tadinya senang bertambah gembira.

Tiga hari berselang, tepat pada hari ulang tahunnya Nina yang ke_21. Anton pergi ke toko emas yang telah didatangi sebelumnya untuk menebus cincin yang dipesan tiga hari yang lalu. Ketika cincin sudah ditangan, Anton tidak langsung pulang. Ia bergegas memutar laju sepeda motor yang dipinjamnya dari Bimo dan mengarahkannya ke sebuah toko bunga yang jaraknya 20 menit dari toko emas tadi. Disana, ia membeli dua tangkai bunga mawar yang masih segar dan dimintanya si penjual untuk mengemas bunga mawar tersebut dengan rapi. Cincin dan bunga kini sudah ditangan, sekarang tinggal menunggu Nina datang padanya. Nina yang ditunggu akhirnya datang, dan apa yang diberikan Anton membuat Nina merasa sangat bahagia lalu memeluk Anton dengan eratnya. Anton pun merasa senang karena usaha yang dilakukan telah bisa membuat Nina bahagia menerima pemberiannya.

Anton yang bahagia tiba-tiba terkejut mendengar kabar Nina yang telah lima bulan menjalani hubungan secara diam-diam dengan seorang laki-laki yang jauh lebih bisa menjamin hidupnya kedepan dibandingkan Anton yang harus susah payah menabung guna membeli sesuatu untuk Nina. Anton mencari kebenaran akan kabar yang didengarnya, dan ternyata benar. Atas pengakuan Nina sendiri, Anton merasa sangat tersiksa. Siksaan yang dirasakan Anton kian bertambah ketika Nina berkata bahwa ia tidak lagi punya cinta ataupun sayang kepada Anton walau itu Cuma sedikit. Anton yang senyum kini menangis, Anton yang berusaha kini sia-sia, dan Anton yang bahagia kini berduka. Namun apalah daya, Anton dengan berat harus berusaha meninggalkan Nina yang dulu dipatok sebagai calon istri bahkan Nina dengan tenang menyarankan kepada Anton untuk melupakan dirinya sebab Nina telah menemukan Anton yang dahulu pada laki-laki yang bersamanya saat ini. Anton pun dengan terpaksa meninggalkan Nina, tapi tidak hatinya karena dalam hati Anton bahkan yang terdalam sekalipun masih ada Nina yang sulit tergantikan oleh wanita lain.

Seiring waktu terus berlalu, selagi bunda masih setia menunggu, dan selama Nina tenggelam dalam kebohongan yang entah kapan ia memulainya, nyatanya ia telah mahir. Anton sekarang menjalani sisa hidupnya dalam duka yang bercampur kecewa melihat dan mendengar kebahagiaan yang dijalani Nina dengan kekasih barunya. “ Bunda, Anton mohon maaf atas semua kesalahan Anton selama bersama Nina dan Anton bangga telah sempat menjadi bagian dari keluarga bahagia ini ”, ucap Anton kepada bunda Nina dalam satu pesan singkat bersama airmata yang membasahi pipinya. Bunda hanya terdiam saat mengetahui semuanya dan berdo’a untuk kebaikan mereka berdua. Semoga do’a bunda dapat dikabulkan oleh Tuhan, seru Anton dalam hati yang masih berharap sambil melangkahkan kaki lalu pergi.

Demikianlah kisah Anton dan Nina yang berhasil diabadikan dalam ingatan dan dituangkan dalam bentuk tulisan oleh sang penulis cerita dalam “ Kesetiaan Separuh Jalan ”. Semoga kisah ini dapat memberikan manfaat bagi setiap kita yang menyempatkan diri membacanya. Amin Yaa Rabbal Alamin.........

Di Sempadan Hijab

Kepalaku terasa sakit, aku berdiri dan membuka mataku perlahan-lahan cuba melihat keadaan sekeliling. Aku dikelilingi kepulan asap seakan-akan kepulan awan. Dimanakah aku berada? Baru sebentar tadi aku cuba untuk memetik bunga Ros yang cantik berwarna ungu. Aku bingung memikirkan apa yang telah berlaku. Jiwaku bercelaru.
“Jangan bimbang Hidayu.. aku yang bawa kamu kemari”, aku lantas berpaling kearah suara itu. Seorang lelaki perkasa berdiri di belakangku, tersenyum segak. Pakaiannya seakan-akan pahlawan kurun ke-15. “Kenapa awak bawa saya ke sini?”, soalku gentar. “Aku sudah lama perhatikanmu Puteri ku”, jawabnya jujur sambil menundukkan wajah ke tanah. “Tapi kenapa?”, soalan ku tidak terus dijawab. Dia lantas datang ke arah ku berwajah serius, “Kerana aku cinta kamu”. Aku membeliakkan mata. Dia tersenyum lalu memetik bunga Ros berwarna ungu yang berada di sebelah ku lalu memberikannya kepada ku. “Petiklah bunga ini jika kamu ingin bertemu dengan ku, keluarlah mengikut arah cahaya itu”, katanya sambil menunding jari ke arah cahaya putih yang menyilaukan mata. Aku memandang ke arah cahaya itu dan berpaling semula ke arahnya, dia telah pun ghaib dari pandangan. Aku yang masih lagi kebingungan lantas berlari melalui cahaya putih tadi. Mataku terasa sakit. Aku memejamkan mata, terasa pawana meniup halus melanggar pipiku. Aku membukakan mata, kelihatan kanak-kanak berlari anak dihadapan rumahku. Disinilah tempat terakhir aku berdiri sebelum di bawa ke sempadan hijab sana. Entah apa nama tempat tadi aku pun tak pasti, yang pasti aku masih lagi dalam kebingungan. “Kerana aku cinta kamu”, kata-kata itu masih terngiang-ngiang di telingaku. Siapakah pemuda tadi? Bila masa pula dia memerhatikan aku? Seingat aku, aku tak pernah pun melihat dia di kampung ini. Dalam aku berkira-kira akhirnya aku terlena.
Pagi itu setelah selesai menolong ibu mengemas dan memasak, aku pergi lagi ke belakang rumah. “Petiklah bunga ini jika kamu ingin bertemu denganku”, suara pemuda itu seakan angin yang meniup datang memperingatiku. Aku tercari-cari bunga Ros ungu itu. Aku harus bertemu dengan pemuda itu, aku mahu kan jawapan darinya. Mataku meliar tercari-cari bunga itu. Akhirnya mataku tertumpu ke arah bawah pohon beringin, bunga Ros ungu itu bercahaya seakan-akan memanggilku agar segera memetiknya. Aku mempercepatkan hayunan langkah, sampai sahaja betul-betul dihadapan bunga itu terus sahaja aku memetiknya. Terasa dingin menyelubungi diri, keadaan sekitar berubah seakan-akan berada di dalam sebuah taman yang cukup indah. “Assalamualaikum Puteriku”, suara pemuda kelmarin kedengaran lagi. Aku berpaling dan disambut senyuman manis olehnya. “Walaikumsalam”, aku hanya tersenyum tawar. “Aku tidak menyangka kamu akan kembali lagi ke sini Hidayu”, katanya sambil menyilangkan tangannya kebelakang. “Saya cuma nak penjelasan dari awak, kenapa awak cakap yang awak cintakan saya?”, soalku keliru. Senyuman manisnya dilemparkan ke arah air terjun yang sedari tadi turun mencurah-curah. Dia menarik nafas panjang sebelum memulakan bicara, “Aku sudah lama memerhatikanmu Hidayu, kau cantik dimataku”“Tapi saya tak nampak awak pun, kenapa selepas petik bunga Ros ungu baru boleh nampak awak?”, soalku bertalu-talu. “Kerana kita dipisahkan oleh dua hijab yang berbeza.. Namun cinta tak mengenal siapa”, jelasnya lagi. Aku terdiam mengerti. “Ayuh kita ke rumahku”, pelawanya tersenyum kacak. Aku hanya mengikutinya tanpa banyak bicara.
“Inikah gadis yang kau maksudkan itu Iskandar?”, soal seorang wanita separuh abad dihadapanku. ‘Oh, Iskandar namanya’, getus hatiku. “Ya bonda, inilah Hidayu gadis pilihanku”, jawabnya penuh adab sopan. “Kau harus mengerti, kita berlainan dunia anakku”, wanita itu seakan memujuk. “Tiadalah yang lain mampu untuk ku cintai bonda”, suara Iskandar mendatar. Aku hanya terdiam memandang kedua beranak itu berdialog. “Tak mengapalah marilah kita menjamu selera dahulu”, wanita itu mempelawa. Kami menuju ke dapur dan menikmati hidangan makanan tengahari, anehnya makanannya sama seperti makanan penduduk di dimensi ku. Terataknya juga sama, tidak jauh beza. Cuma pertuturan mereka seakan-akan di zaman Hang Tuah. Aku seakan teruja, langsung tidak menyangka dapat melihat sendiri kehidupan makhluk yang tidak dapat dilihat oleh mata kasar ini. Subhanallah, begitu besar kuasa Allah pencipta.
Iskandar membawa ku bersiar-siar di taman, dia menghadiahkan ku sebentuk cincin emas yang sangat cantik. “Inilah tanda kasih ku padamu Hidayu”, katanya jujur tersenyum kacak menampakkan lesung pipit di pipi kiri nya. Aku hanya tersenyum dan seakan sudah jatuh cinta. Manakan tidak, dia melayani ku bagaikan seorang puteri. Tutur katanya lembut dan sopan. Ayat-ayat cinta yang keluar dari mulutnya membuatkan aku seakan dihanyutkan lautan samudera. “Hidayu, hari sudah petang eloklah kiranya kamu pulang dahulu”, katanya jujur. Aku hanya mengganguk tanda setuju dan mengikutinya ke tempat bercahaya terang itu. Aku berpaling memandangnya sebelum melangkah kearah cahaya, “Is, aku juga cinta padamu”. Ternampak garis-garis gembira pada riak wajahnya, aku berpaling dan berlalu pergi.
Aku muncul di bawah pohon beringin, nasib baik lah hari masih cerah. Kalau tidak Ibu dan Ayah pasti mengesyaki sesuatu. Aku cepat-cepat menuju ke rumah, Ayah dan Ibu masih di ruang tamu. “Ayu, kamu kemana? Dah dua hari asyik hilang macam tu aje, dah nak dekat maghrib baru nampak batang hidung”. Ayah sudah mula menyoal. “Ayu jalan-jalan ke rumah kawan”, jawab ku lalu terus masuk ke dalam bilik. “Jangan ke belakang rumah sudah, tempat tu bukannya elok”, kata Ibu pula menyambung. Aku hanya buat tak endah, biasalah orang tua-tua sengaja menakut-nakutkan anak mereka sebagai peringatan supaya berhati-hati.
Malam itu aku terus masuk tidur sedangkan keluargaku menjamu selera di dapur, aku mengenggam erat cincin pemberian Iskandar yang berbentuk seakan-akan bunga Ros ungu di belakang rumah. Wajah Iskandar menerpa di ruangan mata ku, senyuman manisnya menyerikan hidup ku dan cintanya memenuhi kekosongan hati ku. Iskandar sungguh istimewa, tidak ada seorang pun lelaki sepertinya. Dia sempurna di mataku.
Matahari menerjah di tingkap bilik menyilaukan mata ku, aku terus bangun bersiap-siap untuk bertemu dengan Iskandar kekasih hati. Melihatkan Ibu dan Ayah tiada, aku terus ke bawah pohon Beringin dan memetik lagi bunga Ros ungu untuk ke sebelah hijab sana. Iskandar masih setia menunggu ku di tempat yang sama, kami seakan terlena dibuai cinta dua dimensi yang berbeza. Begitulah setiap hari kami bertemu, sedar tak sedar sudah hampir sebulan kami memadu asmara, kasih ku padanya sudah tak terhitung banyaknya. Iskandar juga begitu, setiap saat berjanji untuk sehidup semati bersama dan meminta agar aku sentiasa setia dengan cinta kami.
“Hidayu, sudikah kamu menjadi suri hidupku?”, soalnya tiba-tiba. Aku hanya tersenyum malu lalu melangkah menuju ke arah air terjun yang jernih. Iskandar mengikuti ku dari belakang.“Mengapa kamu berdiam diri?”, soalnya seakan cemas. “Is. . saya beri jawapan esok boleh?”, kataku meminta kebenaran. Iskandar hanya mengganguk perlahan dan tersenyum manis tanpa memaksa. Itulah sikapnya yang membuatkan aku jatuh cinta. Dia benar-benar seorang lelaki yang budiman dan berpegang teguh pada ajaranNya. Setiap hari pasti aku diajak berjemaah bersama dia dan ibunya di rumah.
Malam itu selepas makan malam, aku terus melangkah laju ingin menuju ke kamar. Tiba-tiba sahaja Ayah memanggil ku. “Ayah nak tanya sedikit, ayu buat apa kat belakang rumah siang tadi?”, soal Ayah serius, Ibu yang duduk di sebelah Ayah pula tiba-tiba menitiskan air mata. “Ayu jalan-jalan Ayah”, jawabku tersekat-sekat. “Jangan tipu, ayah nampak Ayu pergi ke pohon beringin petik sesuatu.. tapi Ayah tak nampak pun apa yang Ayu petik, lepas tu tiba-tiba ghaib”, terang Ayah yang membuatkan ku terkedu seketika. Aku menelan liur. Tembelang ku sudah pecah. “Ayu tahu tak bawah pohon beringin tu tempat orang bunian?”, soal Ayah lagi. Aku hanya mengganguk tanda faham. “Maknanya Ayu dah jumpa orang di sebelah sana?” Aku mengganguk lagi. “Ayu tahu tak kalau ada yang berkenan dan kahwin dengan Ayu, mungkin Ayu tak boleh balik ke dimensi kita lagi?”, ayah memandangku sayu. “Pernah terjadi di dalam keluarga kita Ayu, nenek Su kamu tidak pernah lagi pulang ke sini sejak berkahwin dengan orang di sebelah sana”, ibu menambah. Kali ini aku terkejut besar, bagaimana kalau ianya terjadi kepadaku? Apakah aku sanggup meninggalkan keluarga sendiri demi cinta terhadap lelaki yang berlainan dimensi? Aku memandang sayu cincin pemberian Is, tak semena-mena air mataku jatuh membasahi pipi. Ayah menghampiriku dan mengusap lembut rambutku. Ibu juga datang menghampiri untuk melihat keunikkan cincin dimensi sana.
“Pulangkan semula cincin ini, Ayah doakan kamu selamat pulang”, ujar Ayah yang mengiringi ku ke pohon beringin. Aku memetik bunga Ros ungu lalu ghaib di mata Ayah. Iskandar hadir dengan sekuntum bunga Ros ungu, dia kemudiannya menghadiahkannya kepada ku.“Jawapanmu?”, soalnya tidak sabar. “Is, saya cintakan kamu”, kataku sayu. Tidak semena-mena air mata ku jatuh berlinangan.
Iskandar menghampiri dan mengusap lembut pipiku. “Mengapa?”, soalnya kehairanan.“Iskandar, kita berasal dari dua dunia yang berbeza.. saya tak mahu berpisah dengan keluarga”, jelas ku sayu. “Mana mungkin aku mampu hidup tanpa kamu Hidayu”, suara Is terketar-ketar menahan sebak. “Sungguh aku menyintaimu”, sambungnya lagi. “Saya pun begitu, tapi kita tak dapat melawan hukum alam sayang”, jelasku sambil mengesat air mata yang sedari tadi turun mencurah-curah. Lalu ku memulangkan semula cincin pemberiannya. “Hidayu, benarkah keputusan mu begitu?”, soalnya serius. Aku hanya mengganguk perlahan, esakan semakin kuat. Iskandar menghampiriku, dia memegang bahu ku lalu mengucup dahi ku tanda kasih. Aku memejamkan mata seeratnya, terasa titisan air mata Iskandar hangat membasahi dahi ku.
Aku membukakan mata, ternyata aku sudah kembali ke alam nyata. Ayah dan Ibu sedang menanti di belakang rumah, aku memandang sayu ke arah pohon beringin, tiada lagi Ros ungu disitu. Yang masih berbekas hanyalah titisan air mata Iskandar di dahiku. Sambil berlari anak menuju ke rumah, aku menangis semahunya. Hatiku hancur berkecai saat meminta perpisahan dari nya, aku terlalu menyayangi Iskandar. Ingin sahaja aku mengundurkan masa yang masih berbekas tadi menatap puas wajahnya yang bersih itu. Aku menoleh semula ke arah pohon beringin tadi. Ternyata Iskandar ada di situ melambai sayu, kelihatan titis-titis jernih terbit dari kelopak matanya. Semakin lama susuk tubuhnya semakin kabur lalu hilang dari pandangan. Sukarnya untuk ku berpisah denganmu Iskandar, ternyata cintamu berbekas di hatiku.